Kemeja Oversize dan Celana Longgar: Bagaimana Tren Fashion Merambat ke Pulaupunjung

Sabtu sore di Pulaupunjung, saya duduk di pinggir lapangan sambil minum es teh. Beberapa remaja lewat dengan kemeja oversize dan celana cargo longgar—gaya yang dulu cuma saya lihat di feed Instagram dari anak-anak Jakarta atau Seoul. Sekarang jadi pemandangan biasa di sini. Sejak 2019 saya mulai menekuni dunia tulis-menulis soal gaya hidup, dan yang paling menarik perhatian adalah cara tren fashion menyusup ke sudut-sudut kota kecil tanpa perlu peragaan busana mewah. Perubahan itu perlahan, tapii nyata.
Awal Tren dari Layar ke Trotoar
Dulu kalau ada orang pakai baju model streetwear di Pulaupunjung, pasti dianggap lebay. Kemeja flanel yang dikancingkan setengah, topi bucket, atau sneakers chunky—semua itu masih asing. Tapi tiga tahun terakhir, anak-anak muda di sini mulai berani bereksperimen. Saya sendiri pertama kali sadar pas lihat sepupu yang kerja di minimarket tiba-tiba muncul dengan hoodie oversized warna neon. Katanya, “Viral di TikTok, Kak.” Dari situ saya paham: tren fashion ngga lagi lahir dari majalah atau peragaan, tapi dari layar ponsel yang diputar berulang.
Yang menarik, adopsi tren di Pulaupunjung ngga seratus persen sama dengan di kota besar. Orang di sini punya caranya sendiri. Misalnya, mereka suka memadukan jaket denim vintage hasil buruan dari pasar loak dengan celana jogger hitam—kombinasi yang jarang saya lihat di Instagram. Itu justru bikin gaya mereka terasa unik. Ada juga kebiasaan pakai kaus oblong polos dengan syal tipis, padahal cuaca Pulaupunjung panas. Tapi bukan masalah soal suhu; ini soal ekspresi. Mereka ingin terlihat beda, tapi tetap dalam batas yang nyaman.
Saya ingat suatu kali di acara pensi sekolah, hampir semua remaja laki-laki pakai kemeja kotak-kotak lengan panjang yang dilipat sampai siku. Celana jeans sobek di lutut. Gadis-gadisnya pakai dress midi dengan sepatu converse. Tanpa disepakati, mereka menciptakan seragam tidak resmi. Waktu saya tanya kenapa milih busana itu, jawabannya simpel: “Biar kelihatan kekinian, Bang.” Bagi mereka, fashion adalah kartu identitas sesaat—cara mengatakan saya tahu tren terbaru, bahkan tanpa harus pergi ke mal.
Tren fashion tak melulu soal mengikuti apa yang viral. Di Pulaupunjung, saya melihat komunitas kecil mulai tumbuh. Ada grup WhatsApp yang saling bertukar info tempat thrifting. Ada juga yang bikin konten OOTD di akun pribadi, walau audiensnya cuma puluhan orang. Mereka pelan-pelan membentuk selera bersama. Perubahan ini ngga instan, tapi kalau saya bandingkan dengan tahun 2019—saat baru mulai nulis—sangat kontras. Waktu itu belum banyak yang peduli soal padu padan.
Kalau dipikir-pikir, yang bikin tren fashion cepat menyebar di daerah seperti Pulaupunjung adalah akses internet dan kemauan untuk mencoba. Atau seperti yang dijelaskan di Wikipedia, fashion adalah cerminan budaya yang terus bergerak. Di sini, gerakan itu dimulai dari scroll layar lalu berakhir di trotoar.
Penutupnya sederhana: fashion bukan lagi soal mahal atau murah, tapi soal siapa yang paling berani tampil beda. Dan di Pulaupunjung, keberanian itu tumbuh dari percakapan kecil, dari likes di media sosial, dan dari kebanggaan jadi bagian dari tren—walau hanya di sudut kota yang jarang disebut.
Untuk konteks lebih: sumber resmi