Dari Hijab Polos ke Layering: Tren Fashion Hijab yang Berubah di Depan Mata

Beberapa tahun lalu, saya masih ingat betapa seragamnya gaya hijab di Pulaupunjung. Hampir semua perempuan memakai hijab segi empat polos yang dililit rapat, warnanya cuma hitam, putih, atau krem. Sekarang, jalanan kampung kami jadi catwalk dadakan. Saya lihat keponakan tetangga pakai hijab pashmina berbahan ceruty yang dilapis dua warna, ujungnya dibiarkan menjuntai sampai pinggang. Bikin penasaran: dari mana datangnya tren ini?
Dari Instagram ke Pasar Tradisional
Kalau ditelusuri, tren fashion hijab sekarang banyak lahir dari media sosial. Dulu, referensi gaya hanya dari majalah atau toko kain. Sekarang, cukup buka Instagram, kita langsung disuguhi puluhan gaya hijab layering—kombinasi inner, outer, dan aksen bros atau karet. Yang paling ramai adalah hijab syari bergaya palestina: kain lebar yang hampir menutupi dada, sering dipadu dengan atasan tunic panjang. Awalnya saya kira itu cuma tren remaja kota besar.
Tapi ternyata, di pasar minggu Pulaupunjung, penjual kain sudah menjual siap pakai hijab instan model segi empat dengan karet di samping. Ibu-ibu pun ikut-ikutan. Dari sisi fungsi, ini bukan cuma soal tampilan lho. Hijab layering lebih praktis untuk yang aktif bergerak, dan bahannya yang ringan seperti voal atau baby doll lebih nyaman di cuaca tropis. Tak heran model-model seperti hijab jersey dan hijab plisket laris manis.
Dari pengamatan saya, kuncinya ada pada adaptasi—perempuan Indonesia pintar menggabungkan tren global dengan kebutuhan lokal. Mereka tidak hanya mengikuti, tapi juga memilih yang cocok untuk aktivitas sehari-hari. Soal selera, Wikipedia sih mencatat hijab punya akar budaya yang kuat, tapi gaya berpakaian tetap berkembang seiring waktu. Saya lihat sendiri di toko dekat rumah, anak remaja milih hijab plisket warna pastel, sementara ibunya lebih suka model syari warna gelap. Semua punya alasan sendiri Soal ini, saya pernah singgung di tren fashion wanita.
Penutupnya, saya cuma tersenyum melihat betapa cepatnya tren hijab merambah sampai ke pelosok. Dulu saya pikir modis itu mahal dan rumit. Ternyata, dengan sedikit kreativitas dan pengaruh dari layar ponsel, siapa pun bisa tampil beda tanpa harus keluar kota. Dan saya rasa, itulah indahnya tren—ia mengalir tanpa diminta, tapi selalu memberi warna pada keseharian.
Referensi: sumber resmi